Pembiayaan multiguna adalah fasilitas pembiayaan yang diberikan oleh perusahaan pembiayaan atau bank untuk berbagai kebutuhan konsumtif maupun produktif dengan menggunakan jaminan tertentu. Biasanya pembiayaan ini digunakan untuk: kebutuhan pribadi, biaya pendidikan, renovasi rumah, modal usaha, biaya kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Pengertian sederhana Pembiayaan multiguna = pinjaman dana yang dapat digunakan untuk banyak keperluan. Contoh: Seseorang menjaminkan BPKB mobil kepada perusahaan pembiayaan untuk mendapatkan dana tunai Rp50 juta guna modal usaha atau kebutuhan keluarga. Ciri-ciri pembiayaan multiguna Menggunakan jaminan (BPKB, sertifikat, dll) Dana dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan Dibayar dengan sistem cicilan Memiliki bunga atau margin tertentu Ada jangka waktu pembayaran Pihak yang terlibat Kreditur / perusahaan pembiayaan Contoh: Adira Finance BCA Finance Debitur / konsumen Pihak yang menerima pembiayaan Penjamin / jaminan Barang yang dijadikan agunan, Jen...
Keislaman seseorang itu bergantung kepada kefahamannya terhadap satu kalimat, yaitu Lailaha illallah Muhammadarrasulullah, di dalam kalimat Lailaha illallah merumuskan konsep tauhid uluhiyyah, Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah, demikian juga orang yang menuhankan hawa nafsu dan tidak mau tunduk kepada hukum Allah.
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menjelaskan, bahwa kata uluhiyah berasal dari alaha–ya’lahu–lahah-uluhah yang bermakna ‘menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan’. Sehingga kata ta’alluh diartikan penyembahan yang disertai dengan kecintaan dan pengagungan (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 6 dan 74-76, lihat juga al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an (1/26) karya Imam ar-Raghib al-Ashfahani). Adapun dengan kalimah Muhammadarrasulullah maka keluarlah orang-orang yang tidak mengakui Muhammad sebagai nabi dan Rasul, tunduk dan Iman kepada Allah tidak diterima apabila mengingkari Nabi. Sunnah yang dibawanya adalah wajib dipegang, ibadah seorang Muslim tidak diterima apabila sesuatu itu tidak disyari’atkan dan disunnahkan. Sementara agama islam dapat diartikan sebagai wahyu Allah yang diturunkan melalui para Rosul-Nya sebagai pedoman hidup manusia di dunia yang berisi Peraturan, perintah dan larangan agar manusia memperoleh kebahagaian di dunia ini dan di akhirat kelak.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Hakekat laa ilaaha illallah adalah tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna bagi hati kecuali dalam kecintaan kepada Allah dan bertaqarrub kepada-Nya dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan tak akan terjadi kecuali dengan berpaling dari kecintaan selain-Nya, sedangkan Muhammad Rasulullah adalah secara murni mengerjakan apa yang beliau perintahkan dan menahan dari apa yang dilarang dan dicegah beliau.
Meyakini terhadap makna dari kalimat Lailaha illallah Muhammadarrasulullah adalah kunci dari segala ilmu. Ada yang mengatakan bahwa yakin dan iman itu ibarat ruh dan jasad, jika tanpa ruh maka jasad tiada berarti lagi. Oleh karena itu tanpa keyakinan maka lenyaplah keimanan, seseorang tidak dapat dikatakan beriman sebelum dia yakin.
Menurut Abu Abdillah bin Khafif, yakin adalah berbagai rahasia yang tanpak melalui penerapan/pengamalan syariat yang tersembunyi. Sedangkan menurut Abu bakar bin Thahir bahwa, ilmu selalu bertentangan dengan keragu-raguan, sedangkan yakin tidak menimbulkan keraguan. Abu bakar al-Waraq berpendapat bahwa yakin adalah pengendali hati. Kesempurnaan iman terjadi karena ada keyakinan dan hati yang tidak liar. Allah bisa diketahui dengan yakin, Allah diketahui ada karena kita menggunakan akal pikiran. Masih menurut Abu bakar bahwa yakin itu ada tiga macam yaitu yakin pengabaran, yakin pembuktian, dan yakin kesaksian. Yakin pengabaran artinya bahwa seseorang benar-benar percaya terhadap informasi (kabar) yang disampaikan oleh pembawa kabar. Yakin kabar yang disampaikan oleh para nabi, para wali Allah dan para ulama.
Adapun yakin pembuktian ialah penerimaan kabar itu dengan disertai oleh alasan (dalil) dan pembuktian keterangan. Hal ini sebagaimana umumnya informasi tentang iman, tauhid dan al-Quran yang dikuatkan Allah melalui berbagai dalil, perumpamaan dan bukti-bukti keterangan yang menunjukkan kebenaran informasi itu. Dengan demikian manusia dapat menerima secara yakin. Yakin yang ketiga adalah keyakinan terhadap pengungkapan, yaitu seakan-akan hati seseorang dapat merasakan kehadiran pemberi kabar di hadapannya. Misalnya seseorang yang mendengarkan keterangan tentang surga dan neraka, maka sepertinya ia melihat secara langsung tentang dua hal tersebut (Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Mutiara di samudra al-Fatehah. Mitrapress. 2011. Hal. 234).
Kita sebagai umat islam belum semuanya beruswah kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu mengwujudkan misi “Rahmatan lil’alamin” maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Pendidikan akhlak ini sangat penting karena menyangkut sikap dan prilaku yang musti di tampilkan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial (keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang terpuji sangat penting dimiliki oleh setiap muslim (masyarakat sebab maju mumdurnya suatu bangsa atau Negara amat tergantung kepada akhlak tersebut.
Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah atas Nabi Muhammad SAW. keluarga dan para sahabatnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Hakekat laa ilaaha illallah adalah tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna bagi hati kecuali dalam kecintaan kepada Allah dan bertaqarrub kepada-Nya dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan tak akan terjadi kecuali dengan berpaling dari kecintaan selain-Nya, sedangkan Muhammad Rasulullah adalah secara murni mengerjakan apa yang beliau perintahkan dan menahan dari apa yang dilarang dan dicegah beliau.
Meyakini terhadap makna dari kalimat Lailaha illallah Muhammadarrasulullah adalah kunci dari segala ilmu. Ada yang mengatakan bahwa yakin dan iman itu ibarat ruh dan jasad, jika tanpa ruh maka jasad tiada berarti lagi. Oleh karena itu tanpa keyakinan maka lenyaplah keimanan, seseorang tidak dapat dikatakan beriman sebelum dia yakin.
Menurut Abu Abdillah bin Khafif, yakin adalah berbagai rahasia yang tanpak melalui penerapan/pengamalan syariat yang tersembunyi. Sedangkan menurut Abu bakar bin Thahir bahwa, ilmu selalu bertentangan dengan keragu-raguan, sedangkan yakin tidak menimbulkan keraguan. Abu bakar al-Waraq berpendapat bahwa yakin adalah pengendali hati. Kesempurnaan iman terjadi karena ada keyakinan dan hati yang tidak liar. Allah bisa diketahui dengan yakin, Allah diketahui ada karena kita menggunakan akal pikiran. Masih menurut Abu bakar bahwa yakin itu ada tiga macam yaitu yakin pengabaran, yakin pembuktian, dan yakin kesaksian. Yakin pengabaran artinya bahwa seseorang benar-benar percaya terhadap informasi (kabar) yang disampaikan oleh pembawa kabar. Yakin kabar yang disampaikan oleh para nabi, para wali Allah dan para ulama.
Adapun yakin pembuktian ialah penerimaan kabar itu dengan disertai oleh alasan (dalil) dan pembuktian keterangan. Hal ini sebagaimana umumnya informasi tentang iman, tauhid dan al-Quran yang dikuatkan Allah melalui berbagai dalil, perumpamaan dan bukti-bukti keterangan yang menunjukkan kebenaran informasi itu. Dengan demikian manusia dapat menerima secara yakin. Yakin yang ketiga adalah keyakinan terhadap pengungkapan, yaitu seakan-akan hati seseorang dapat merasakan kehadiran pemberi kabar di hadapannya. Misalnya seseorang yang mendengarkan keterangan tentang surga dan neraka, maka sepertinya ia melihat secara langsung tentang dua hal tersebut (Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Mutiara di samudra al-Fatehah. Mitrapress. 2011. Hal. 234).
Kita sebagai umat islam belum semuanya beruswah kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu mengwujudkan misi “Rahmatan lil’alamin” maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Pendidikan akhlak ini sangat penting karena menyangkut sikap dan prilaku yang musti di tampilkan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial (keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang terpuji sangat penting dimiliki oleh setiap muslim (masyarakat sebab maju mumdurnya suatu bangsa atau Negara amat tergantung kepada akhlak tersebut.
Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah atas Nabi Muhammad SAW. keluarga dan para sahabatnya.

Komentar